Tips

Dapatkah Daya Tahan Lansia Ditingkatkan ?

Daya tahan tubuh yang menurun pada lanjut usia (lansia) merupakan salah satu fungsi sistem tubuh yang terganggu dengan bertambahnya umur seseorang (proses menua), walaupun tidak selamanya hal ini disebabkan oleh proses menua, tetapi dapat pula  karena berbagai keadaan seperti penyakit yang sudah lama diderita (menahun) maupun penyakit yang baru saja diderita (akut) dapat menyebabkan penurunan daya tahan tubuh seseorang. Demikian juga penggunaan berbagai obat, keadaan gizi yang kurang, penurunan fungsi organ-organ tubuh dan lain-lain.

Akibat proses menua, sistem daya tahan (sistem imun) tubuh akan berkurang fungsinya, yang mana sistem imun tidak bereaksi secepat atau seefisien yang didapati pada usia yang lebih muda. Adapun perubahan-perubahan yang terjadi pada sistem imun meliputi perubahan di dalam sel, perubahan kimiawi dan protein pada pembungkus (membran) sel, maupun pada organ tubuh.

Selain itu, didapati berkurangnya pertahanan tubuh yang tidak spesifik pada lansia, seperti berkurangnya pengeluaran lendir pada saluran nafas, kurangnya kemampuan butir-butir darah putih (lekosit) untuk bereaksi dan juga kurangnya pembentukan suatu zat yang disebut sebagai interleukin.

Kelenjar timus, merupakan suatu organ tubuh yang amat berpengaruh pada pembelahan maupun proses pematangan sel-sel limfosit T, yaitu sel-sel yang berperanan pada sistem pertahanan tubuh, telah berkurang fungsinya pada lansia. Pada usia 60 tahun, besar kelenjar timus kurang dari 5 % dari timus bayi baru lahir.

Pada lansia sering didapati sel limfosit T yang tidak matang di dalam aliran darah, yang membuktikan adanya penurunan fungsi kelenjar timus, sehingga fungsi sistem imun tubuh akan berkurang. Kalsium yang sangat diperlukan untuk proses aktivasi sel T pada lansia juga berkurang, yang akan menghambat proses pembentukan interleukin tadi dan menyebabkan berkurangnya produksi interleukin.

Berbeda dengan sel limfosit T, maka sel limfosit B yang diproduksi oleh sumsum tulang jumlahnya tak berubah pada lansia, akan tetapi terjadi perlambatan di dalam proses pematangannya.

Sistem imun

Sistem imun adalah semua mekanisme yang dipergunakan tubuh untuk mempertahankan kestabilan tubuh sebagai perlindungan terhadap bahaya yang ditimbulkan berbagai bahan yang terdapat dalam lingkungan hidup.

Sistem imun tubuh terdiri dari sistem imun alamiah (natural, innate) atau dikenal sebagai sistem imun non spesifik, yaitu sel-sel di dalam tubuh yang berfungsi untuk mempertahankan sistem imun tubuh dalam menghadapi berbagai benda asing/mikroorganisme, misalnya sel fagosit, natural killer, dan sistem imun adaptif (acquired/didapat) atau disebut juga sistem imun spesifik yang hanya dapat merusak benda asing/mikroorganisme yang telah dikenal sebelumnya, misalnya limfosit T dan B.

Paling sedikit ada 2 keadaan yang terjadi pada lansia yang sering disebabkan oleh menurunnya sistem imun. Komplikasi berupa seringnya terjadi infeksi yang merupakan penyebab utama kematian dan banyaknya terjadi penyakit keganasan (kanker) adalah contoh akibat kemunduran fungsi sistem imun.

 

Upaya pencegahan agar sistem imun ini tidak mengalami penurunan yang telah  banyak diteliti adalah berkaitan dengan vaksinasi (imunisasi) dan nutrisi (gizi). Vaksinasi yang sering dilakukan pada lansia berupa vaksinasi terhadap kuman influenza (setiap tahun) dan pneumokok (setiap 5 tahun), karena kedua kuman ini sering menyebabkan infeksi saluran nafas dan menyebabkan angka kematian yang tinggi.

Adapun maksud pemberian vaksinasi ini yaitu untuk meningkatkan kembali sistem pertehanan tubuh yang telah mulai menurun akibat bertambahnya usia, sehingga dapat mengurangi angka kesakitan dan kematian karena penyakit infeksi. Zat-zat gizi yang sangat diperlukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh adalah vitamin A,C,E, sedangkan mineral berupa selenium, zat besi dan seng.

Pada akhir-akhir ini telah banyak berkembang mengenai peran imunomodulator, yaitu zat-zat atau obat-obat yang memperbaiki sistem imun dengan cara merangsang sistem imun pada orang yang sistem imunnya berkurang dan sebaliknya, menekan atau menormalkan sistem imun pada orang yang respons imunnya berlebihan.

Imunomodulator adalah zat-zat/ obat-obat yang dapat menormalkan ketidakseimbangan sistem imun, menurut cara kerjanya dapat digolongkan atas imunorestorasi, imunostimulasi dan imunosupresi.

Imunorestorasi merupakan suatu upaya memperbaiki sistem imun yang terganggu dengan cara memberikan komponen sistem imun, misalnya memberikan immunoglobulin, plasma darah, pencangkokan sumsum tulang dan lain-lain.

Imunostimulasi merupakan suatu upaya memperbaiki sistem imun yang terganggu dengan cara merangsang sistem imun, misalnya dengan pemberian ekstrak hormon dari kelenjar timus, limfokin, interferon, levamisol, methisoprinol, muramil dipeptida dan lain-lain.

Imunosupresi merupakan upaya untuk menekan respons imun, misalnya pemberian steroid. Hal ini sering diterapkan pada orang-orang yang mengalami pencangkokan organ tubuh yang berasal dari orang lain untuk mengatasi reaksi penolakan dari tubuh.

Perlu diperhatikan

Dengan meningkatnya usia maka sebahagian lansia telah mengalami penurunan sistem imun, sehingga memudahkan lansia untuk mendapat penyakit infeksi dan kanker yang menyebabkan masih tingginya angka kesakitan dan kematian pada lansia.

Berbagai upaya yang telah dilakukan selama ini untuk meningkatkan sistem imun tubuh adalah dengan meningkatkan status gizi dengan cara mengkonsumsi cukup mineral dan vitamin, melakukan vaksinasi terhadap kuman influenza dan pneumokok serta pemberian imunomodulator, sebagai pengobatan tambahan terhadap penyakit infeksi. (dr.Pirma Siburian Sp PD, pemerhati masalah kesehatan lansia dan dokter pada klinik lansia Klinik Spesialis Bunda Medan).

sumber : WASPADA Online